Ibu, panutan disetiap langkahku..

Bulan Desember lekat dengan Bulan dengan nuansa damai. Bulan ini banyak perayaan, Natal dan Tahun baru setelahnya, serta yang paling mengharu biru biasanya adalah Hari Ibu. Saya Indy, umur 26 tahun, saya anak terakhir dan perempuan sendiri dari anak-anaknya Ibu Bapak.

cicin

Ketika menceritakan tentang Ibu, terkadang untuk mengungkapkan rasa atau berkata secara langsung tak kuat menahan air mata yang pasti akan bertumpah ruah. Saya dan Ibu sangat dekat, Ibu adalah sahabat yang paling mengerti, yang tak suka menghakimi, sahabat yang menerima segalanya tentang saya. Segala sesuatu yang saya lakukan semuanya saya ceritakan kepada Ibu. Ibu berumur 61 tahun, tapi menurut pandangan yang saya lihat Ibu belum terlalu tua untuk wanita yang seumur itu, seolah masih 10 tahun dibawah umurnya sekarang, entah itu pandangan saya sebagai anak atau banyak orang lain juga yang berpikiran sama seperti itu, karena beberapa rekannya jika bertemu selalu mengatakan awet muda. Saya selalu berpesan agar selalu ceria agar tidak cepat terlihat terlalu tua,jadi  ketika nanti saya menikah Ibu masih terlihat muda dan cantik, walaupun bagi saya ketika tuapun ibu tetap wanita tercantik diseluruh dunia. Disetiap kesempatan saya dan Ibu sering kompak, kami seperti layaknya kakak dan adek, suka bertukar baju, tas,sepatu. Ibu tak pernah risih dengan omongan orang yang katanya kami hampir seperti seumuran. Saya sangat bersyukur karena memiliki Ibu yang sangat luar biasa. Ibu adalah pejuang yang sangat gigih dikeluarga kami, bukan hanya berjuang ketika hamil 9 bulan membawa-bawa saya kemanapun beliau bergerak, bukan hanya ketika menahan sakit ketika melahirkan saya, tapi semasa saya hidup sampai detik ini, Ibu tak pernah berhenti berjuang untuk membuat semuanya baik.

Pernah suatu saat, saya menanyakan kepasa Ibu ” Bu, dulu ketika ibu melahirkan saya, apa yang ibu rasakan dan pikirkan?”, dengan senyumnya yang selalu mendamaikan Ibu menjawab dengan lembut ” Dulu Ibu berpikir kamu laki-laki, karena kedua kakakmu laki-laki, jadi ibu pikir mungkin akan lahir lagi seorang laki-laki, tapi ketika Suster menyerahkan Bayi mungil Ibu yang ternyata perempuan manis, Ibu sangat bersyukur, Ibu merasa keluarga kita semakin lengkap, kamu akan menjadi putri kecil ibu yang mendamaikan ditengah keluarga kita, itu doa pertama Ibu untukmu, rasa sakit yang ibu rasakan  yang seolah mengumpulkan nyawa seribu menjadi satu nyawa, tapi ketika Ibu mendengar suara tangismu, Ibu ingin kembali segera sehat dan segera melihat kau tumbuh menjadi wanita yang kuat”, petikan cerita itu tak pernah saya lupakan, kalimat per kalimat itu sangat mengena di otak saya.

pizap.com14182825413622

Ibu saya berprofesi sebagai seorang Bidan didesa, ketika masa saya kecil Bidan desa tidak membantu wanita melahirkan diruang prakteknya, tapi Ibu yang datang ke rumah  para wanita yang akan melahirkan. Jam berapapun, lelah seperti apapun, dalam kegiatan apapun, jika ada pasien yang meminta tolong untuk melahirkan bayinya, Ibu tak pernah menolaknya, meski menempuh puluhan kilometer dengan medan jalanan yang sulit dilalui, dengan sangat gigihnya Ibu tetap melampauinya. Tidak hanya itu, karena perekonomian orang didesa kebanyakan kelas menengah kebawah bahkan banyak yang masuk kalangan tidak mampu, beberapa ada yang tidak membayar jasa Ibu. Ada pula yang hanya membayar dengan Pisang atau beras beberapa kilo saja. Suatu waktu saya pernah mengetahui kejadian dimana ada seorang Bapak yang datang kerumah dan menemui Ibu, yang setelah saya tahu ternyata Bapak tersebut datang ke rumah hanya untuk membayar jasa Ibu dengan pisang 3 sisir, namun yang saya heran Ibu tak meminta lebih untuk bayaran yang jika dihitung dengan rupiah pasti sangat sedikit harganya. Saya menghampiri Ibu dan mengatakan “Kenapa diterima Bu, kan dia cuma bayar pakai pisang?dia ga tahu bagaimana lelahnya Ibu ga tidur semalaman menunggu istri dan bayinya lahiran?dia ga ngerasa apa rumahnya jauh banget, kesananya aja sampai ga bisa dilewati pakai motor karena jalannya berlumpur?” saya sedikit kesal dengan kejadian itu, Jawab Ibu “Nduk,Ibu ikhlas lahir batin, manusia dilahirkan didunia ini ga melulu buat egois sama urusannya sendiri, tapi juga untuk berbagi dan menolong sesama, kalau kita ikhlas nanti yang bales Tuhan nduk, lagian membantu sesama tidak akan mengurangi harta kita sedikitpun “. Malunya saya,  ketika jawaban itu sangat membuat saya terharu dan menampar saya begitu egoisnya saya, Ibu sangat luar biasa. Dari kejadian itu, saya belajar bagaimana ikhlas dan rela menolong sesama tanpa pamrih.

Foto0636

Ibu adalah wanita nomor satu yang selalu ada ketika masa-masa terberat saya, Ibu adalah benteng pertahanan dalam hidup saya,  ketika saya patah hati untuk pertama kalinya yang waktu itu umur saya masih sangat belia, dengan bijaknya Ibu selalu menemani saya, mencari cara agar saya tidak lagi menangis, memberi dukungan agar saya bangkit lagi. Ketika saya gagal dalam ujian lomba menari yang merupakan impian saya, saya sangat kecewa karena saya sangat berharap saya bisa menang dalam kompetisi itu, tapi ternyata saya gagal, Ibu dengan sigapnya memeluk saya, mengatakan banyak cerita jenaka agar saya tersenyum kembali. Ketika saya tidak kunjung menyelesaikan pendidikan saya, dimana kakak dan Bapak saya yang selalu mendesak untuk segera lulus, namun cara Ibu adalah menasehati dengan kalimat yang lembut, dengan belaian dan pelukan yang hangat, dan motivasi yang tinggi, hingga akhirnya saya bisa menyelesaikan itu semua. Sampai hari ini ketika saya sudah bekerja dan saya belum menikah, namun Ibu tetap selalu berada tepat dibelakang saya mendukung apapun hal positif yang saya lakukan.

Ibu Maaf saya belum bisa membuatmu bangga menjadi anak seperti impianmu, saya belum cukup untuk menjadi pembawa damai didalam setiap peristiwa. Tapi, saya akan selalu berusaha, selalu berusaha menjadi seperti apa yang Ibu impikan.

Terimakasih Bu, perjuanganmu yang tak kunjung usai, menjadi pelajaran berharga untuk saya kelak, untuk saya juga yang nantinya pasti akan menjadi seorang istri dan Ibu juga. Semoga kelak, saya juga bisa segigih, sekuat,sesabar,sebaik Ibu.

Terimakasih juga untuk Bapak, yang sampai hari ini masih dengan setia menjaga malaikat tanpa sayap  milik keluarga kita.

Lafalan doa tak pernah kunjung usai untukmu Ibu. Ibu selalu menjadi tema utama saya ketika saya berbincang dengan Tuhan.

Jaga kesehatan terus ya Bu, jangan pernah kalah dengan rambut putihmu, jangan pernah malu dengan kulit keriputmu, jangan pernah kurang percaya diri dengan tenagamu yang tidak sekuat dulu, jangan pernah menyerah dengan sisa tenagamu. Meski semuanya telah berubah, rambut putih, kulit keriput, tenaga yang melemah, tapi Ibu tetap memancarkan kecantikan disetiap perjalananmu.

Cinta dan Peluk untukmu,

 

Anak Gadismu.

Artikel ini bisa juga di nikmati di vemale.com, demikian linknya: :http://www.vemale.com/inspiring/lentera/76508-ibu-hanya-kau-satu-satunya-orang-yang-ingin-kupeluk-selamanya.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s